Senin, 01 Februari 2010

Titik Lemah 100 Hari: SBY Terlalu Reaksioner

Seratus hari pertama pemerintahan SBY-Boediono diwarnai dengan gonjang-ganjing politik dan hukum dibandingkan dengan gebrakan kinerja.

Persoalan seperti kasus dua unsur pimpinan KPK hingga perseteruan Cicak vs Buaya dan kasus Bank Century lebih lekat di benak masyarakat daripada apa yang diingat tentang kerja pemerintah. Pengamat politik Universitas Gadjah Mada, Ari Sudjito, memandang, salah satu hal yang menyebabkan berbagai persoalan meluas adalah tipikal reaksioner SBY terhadap "pancingan" lawan politiknya.

"Ada beberapa titik lemah yang saya lihat dalam 100 hari pertama ini. Salah satunya, adanya distrust yang muncul karena mudahnya SBY merespons berbagai hal. Dia gampang tergoda untuk menjadi reaksioner terhadap manuver lawan politiknya. Terkadang, yang ditanggapi adalah isu-isu yang tidak penting," kata Ari kepada Kompas.com, Rabu (27/1/2010) malam.


#-----------Maaf....iklan bentar yach...-------------#


#-----------------Terima kasih---------------------#

Akhirnya, performa SBY dengan agenda 100 Hari Pemerintahan tidak bisa melampaui konflik yang muncul. Hal ini mengakibatkan klaim keberhasilan yang mulai digembar-gemborkan pembantunya menjelang 100 hari pemerintahan tidak memiliki legitimasi.

"Gebrakan pemerintah sudah dilihat oleh publik karena dipenuhi oleh konflik. Kalau ada klaim tentang keberhasilan, saya pikir tidak legitimate. Ukurannya apa? Karena selama ini publik susah melakukan penilaian, baik kualitatif maupun kuantitatif," ujarnya. 

Ke depan, lanjut Ari, pemerintahan SBY-Boediono harus memantapkan road map yang lebih baik untuk kerja pemerintahan selama lima tahun. Seratus hari pertama seharusnya dimanfaatkan untuk menjadi titik awal. "Meskipun di setiap rezim 100 hari pertama tidak pernah punya makna," kata Ari.(sumber kompas.com)

Kinerja 100 Hari SBY-Boediono Belum Menggembirakan

Wakil Ketua DPR, Anis Matta menilai, kinerja pemerintahan belum terlalu menggembirakan.
"Kalau catatan saya, terutama bahwa selama 100 hari ini tidak terlihat kinerja yang memadai dan menggembirakan dari pemerintah," kata Anis, Rabu (27/1/2010), di Gedung DPR, Jakarta.
Dalam tim ekonomi, konsolidadi dipandangnya belum terlalu solid. Padahal, di awal pemerintahan sudah ada gebrakan melalui National Summit. Namun, 100 hari pertama ini, sejumlah kasus justru menutup langkah awal pemerintahan SBY-Boediono. Apa ada yang positif?
"Yang paling bagus, masalah keamanan. Walau banyak demo, keamanan bagus. Soal kesejahteraan memang agak susah. Kebijakan bagus, tapi tim ekonomi perlu lebih berkonsolidasi," ujar politisi PKS ini. (sumber kompas.com)

#-----------Maaf....iklan bentar yach...-------------#


#-----------------Terima kasih---------------------#

Dituduh "Maling", "Berbadan Besar", "Malas" dan "Bodoh" Presiden Tersinggung

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tampaknya tersinggung dengan pernyataan dan ulah para peserta aksi demo besar yang terjadi pada 28 Januari 2010 lalu di Jakarta dan sejumlah daerah lainnya.
Pasalnya, dalam aksi demo tersebut, selain muncul pernyataan melalui  loudspeaker yang sangat keras seperti "SBY maling, Boediono maling dan menteri maling", juga ada yang membawa kerbau yang digambarkan seperti dirinya dengan "badan besar dan malas" serta foto-foto dirinya dan pejabat lainnya yang dibakar dan diinjak-injak.

Oleh sebab itu, pada saat memberikan pengantar pada pembukaan rapat kerja pemerintah dengan seluruh menteri dan para gubernur se-Indonesia di Istana Kepresidenan di Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, Selasa (2/2/2010) pagi, Presiden menginstruksikan agar persoalan ini dibahas bersama agar mendapatkan jalan keluar yang terbaik.

#-----------Maaf....iklan bentar yach...-------------#


#-----------------Terima kasih---------------------#

"Tolong dibahas dan diberi masukan, apakah unjuk rasa beberapa hari lalu di negara Pancasila, yang konon memiliki budaya, nilai dan peradaban yang baik, apakah harus seperti itu? Tanpa mengganggu demokrasi itu sendiri, kebebasan dan ekspresi dan sebagainya," tanya Presiden.
Menurut Presiden, pembahasan soal itu dilakukan agar semua pihak dapat menyelamatkan demokrasi, budaya dan peradaban di Indonesia. Sebab, dunia menyaksikan aksi tersebut dengan teknologi yang canggih.

"Pembahasan itu bukan untuk memasung demokrasi. Demokrasi itu bagian dari reformasi kita, cita-cita kita. Namun, buatlah demokrasi yang bermartabat, demokrasi yang tertib dan mendorong kebersamaan dan kesatuan kita," lanjut Presiden.

Presiden kemudian memberikan contoh, "Saya memahami, akan tetapi banyak orang yang memberikan masukan yang menggelitik, 'Pak SBY apa ya cocok dengan loudspeaker yang keras lalu berteriak-teriak SBY maling, Boediono maling dan menteri maling', dan tidak bisa diapa-apakan."
Lalu ditambahkan lagi oleh Presiden, "Ada yang bawa kerbau, 'SBY badannya besar, malas dan bodoh seperti kerbau'. Apa itu ekspresi kebebasan dan demokrasi? Juga foto diinjak-injak dan dibakar di mana-mana dan di daerah," ungkap Presiden lagi.
Saat memberikan pengarahan, hadir seluruh menteri, gubernur, staf khusus dan sebagian Dewan Pertimbangan Presiden serta pimpinan LPND seperti Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Muladi, Kapolri, Panglima TNI dan Jaksa Agung serta PeJabat Pelaksana Tugas Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Tumpak Haturongan Panggabean serta penjabat Gubernur Bank Indonesia (BI), yaitu Deputi Gubernur Senior BI Darmin Nasution. (sumber kompas.com)
 
Copyright 2009 @ Bojonegoro POS